Salamrejo -
Pemerintah Kalurahan Salamrejo mulai mematangkan langkah untuk mendokumentasikan sejarah lokal melalui penyusunan buku toponimi. Langkah awal ini ditandai dengan digelarnya rapat Paparan Awal Toponimi di Ruang Rapat TBK, Kamis (18/6/2026) pagi.
Rapat yang dimulai tepat pukul 09.00 WIB tersebut fokus pada persiapan teknis pengumpulan data. Nantinya, buku ini tidak hanya berisi narasi, tetapi juga diperkuat oleh dokumentasi visual yang memuat enam aspek krusial wilayah.
Keenam aspek tersebut meliputi situasi kewilayahan, asal-usul penamaan, analisis linguistik (kebahasaan), serta rekam jejak historis. Selain itu, inventarisasi adat tradisi serta peninggalan sejarah dan budaya—seperti bangunan yang dikeramatkan dan objek diduga cagar budaya (ODCB)—juga menjadi menu wajib dalam penyusunan instrumen ini.
Meski skema penyusunan telah matang, tim di lapangan masih menghadapi kendala minimnya data sekunder. Hingga rapat ini digelar, tercatat masih ada beberapa wilayah di Kalurahan Salamrejo yang belum memiliki basis data narasumber lokal yang valid.
Tiga wilayah yang kini menjadi prioritas perburuan narasumber toponimi tersebut adalah: Padukuhan Giyoso, Padukuhan Mentobayan, Padukuhan Kidulan
Melalui paparan perdana ini, tim penyusun mendesak adanya gerak cepat dari para pemangku wilayah untuk melacak dan mewawancarai para sesepuh atau tokoh adat di tiga padukuhan tersebut. Langkah cepat ini dinilai krusial agar penulisan buku toponimi tidak kehilangan momentum dan terhindar dari bias sejarah.