Salamrejo – Pemerintah Kalurahan Salamrejo menggelar Rapat Pembahasan Siteplan Pembangunan Potensi Unggulan Kalurahan Salamrejo pada Jumat malam, 10 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 19.30 WIB hingga 22.30 WIB tersebut dilaksanakan di Rumah Makan Ayam Laos dan Bakmi Jawa Pak Mun dan dihadiri oleh lurah, Pamong kalurahan terkait, serta tokoh masyarakat.
Dalam arahannya, Lurah Salamrejo menekankan pentingnya pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui konsep TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Masyarakat diharapkan mampu mengolah dan mengelola sampah sejak dari rumah tangga, sementara TPS 3R difokuskan untuk pengelolaan residu. Lurah juga menyampaikan adanya potensi lahan di wilayah Kidulan dengan luas sekitar 5.000 meter persegi yang sangat memungkinkan untuk dikembangkan sebagai kawasan terpadu pemanfaatan sampah, dengan catatan perlu penyesuaian dan penegasan kesesuaian tata ruang (RTRW). Produk hasil pengelolaan sampah masyarakat nantinya direncanakan dapat dipasarkan melalui KDMP.
Rapat ini juga bertujuan untuk menyusun siteplan kegiatan wisata dan pemberdayaan masyarakat, sekaligus menyepakati pokok-pokok bahasan sebagai dasar perencanaan ke depan.
Aat dalam pemaparannya menyampaikan hasil kunjungan ibu-ibu PKK Klebakan ke Kalurahan Gulurejo yang dinilai memiliki kemiripan kondisi topografi dengan Salamrejo. Dari kunjungan tersebut muncul inspirasi pengembangan komoditas pertanian seperti buah kelengkeng dan mangga. Kelengkeng dinilai potensial karena dapat dibooster sehingga waktu panen dapat diatur. Namun demikian, Aat mengingatkan bahwa tantangan utama bukan hanya pada ide, melainkan pada aspek pelaksanaan, perawatan, dan keberlanjutan kegiatan.
Ia juga mencontohkan praktik budidaya lele di Watu Bulus, di mana limbah lele yang mengandung urea tinggi berpotensi dimanfaatkan. Saat ini, produksi limbah cair mencapai sekitar 1.000 liter, namun pemanfaatannya masih dilakukan secara bertahap dan hati-hati.
Menanggapi hal tersebut, Lurah menyampaikan bahwa inisiasi serupa sebenarnya telah pernah dilakukan di wilayah Karangwetan dan Kidulan, namun hingga kini belum menunjukkan hasil yang signifikan. Salah satu contoh adalah penggunaan booster kelengkeng di Gulurejo yang memanfaatkan bahan sederhana. Ke depan, sawah di wilayah Kidulan diharapkan dapat dijadikan lokasi showcase kegiatan pertanian terpadu dengan pemanfaatan sampah. Lurah juga menegaskan bahwa sampah organik diharapkan dapat habis dikelola di tingkat masyarakat, sehingga TPS 3R fokus mengolah residu. Selain itu, kawasan pinggiran Sungai Progo (Wedi Kengser) juga dinilai berpotensi sebagai lokasi showcase kegiatan.
Mujiran menambahkan perlunya dilakukan skoring atau penilaian kelayakan terhadap lokasi Kidulan agar pengambilan keputusan dapat lebih terukur dan berbasis data.
Dalam penutup arahannya, Lurah menegaskan bahwa agenda rapat ini difokuskan untuk membahas kelayakan lokasi serta jenis kegiatan yang relevan untuk dikembangkan. Salah satu kendala yang diidentifikasi adalah kesulitan menaikkan air dari Sungai Progo ke lokasi Kidulan. Oleh karena itu, Lurah mengarahkan peserta pelatihan bank sampah yang telah dilaksanakan sebelumnya untuk mulai mempraktikkan hasil pelatihan di TPS 3R, seperti budidaya magot, pengolahan sampah menjadi kompos, serta penanaman tanaman pangan di lokasi Kidulan.
Sebagai solusi teknis, Aat mengusulkan penggunaan panel surya yang beroperasi pada siang hari untuk mendukung sistem pemompaan air. Menurutnya, solusi ini dinilai lebih efisien dan efektif, dengan fokus persiapan pada instalasi untuk menaikkan air ke lokasi yang direncanakan.
Rapat ini diharapkan menjadi langkah awal yang konkret dalam penyusunan siteplan pengembangan potensi unggulan Kalurahan Salamrejo secara berkelanjutan dan berbasis pemberdayaan masyarakat